Langsung ke konten utama

my first official driving license


Yesss… I officially did it 😄

November 19, 2016 — finally got my first driving license, and yes… 100% without any “broker” (calo).

The journey? Not as smooth as I thought.

After going back and forth to the Satpas in Daan Mogot, hearing all kinds of stories like “it’s hard to pass without help” or “you’ll just keep failing,” I was honestly a bit doubtful. But still, I told myself: let’s try it the right way. InsyaAllah, bisa.

There were three main tests: health check, written test, and the real challenge… the practical test.

And yep—this is where things got interesting.

First attempt:
I passed all the driving maneuvers… felt pretty confident… until I realized—no helmet 😅
Instant fail.

Second attempt:
Helmet? Check.
Procedure? Check.
But… apparently too slow.
Another fail.

Third attempt:
Okay, this is it. Full focus. Helmet on. Time managed better.
And finally… PASSED.

That moment? Pure relief.

All the effort, the retries, the decision to go through everything the proper way—it all paid off.
Not just about getting a license, but proving to myself that I can do it without shortcuts.

Worth it? 100%.


Unfortunately i just forgot to extend the active period in 2021, so that i need to restart the process or forget the process 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

merangkai kenangan #1-PB Kusuma

"Mas Agus", begitu aku memanggilnya, Sore itu aku sengaja menyempatkan diri menghubungi beliau untuk sekedar bertemu dan sejenak bercakap. Saat ini dia bekerja di sebuah perusahaan di kawasan Pulo Gadung Jakarta Timur. Adalah badminton yang menjadikan dia mempu bertahan menjadi karyawan tetap, ditengah banyak karyawan PT yang "dirumahkan". Menyebut nama beliau, pikiranku langsung melayang ke masa dimana aku masih berlatih badminton semasa kecil. Sesosok atlet badminton masa itu seperti Ardi B Wiranata, Hariyanto Arbi, Joko Supriyanto serta lokasi latihan GOR Gelarsena sampe bis Putra Jaya Utama dan besi tua menghiasi ingatan.  Gebyar olahraga tepok bulu waktu itu memang sangat menyebar dan mendalam. Hampir setiap malam ada pertandingan "bapak-bapak" di kampung. Lomba antar kampung dan lomba 17-an merupakan tontonan seru bagi warga.  Mas Agus adalah tetangga di kampung, dan masih ada garis saudara. Semasa kecil, kami terbiasa berlatih tanding badminton bers...

Hibah barang belum diregister, perlukah dicatat?

"Dalam suatu sesi, salah satu satker mempertanyakan ketentuan penatausahaan mengenai hibah.  Diceritakan bahwa satkernya mendapat hibah barang dari pemda pada tahun 2015. Atas transaksi dimaksud, dia mencatatnya sebagai hibah pada tahun 2016 sesuai dengan dokumennya berupa berita acara serah terima yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Namun ketika satker dimaksud melakukan rekonsiliasi dengan pengelola barang, satker diminta untuk melengkapi dokumen pengesahan hibahnya dan sebelum dilakukan pengesahan maka barang dimaksud belum dicatatkan dalam daftar barangnya." Bagaimanakah pencatatan atas hibah barang yang diperoleh oleh satker tersebut, kapankah satker harus melakukan pencatatan serta apa yang harus dilakukan oleh satker ketika menerima hibah berupa barang?    Sebelum mengulas hal dimaksud perlu kiranya kita mengetahui apa itu definisi hibah, siapa yang terkait dengan pengelolaan hibah, bentuk dan jenis hibah, dokumen hibah, dan proses penataus...

kantor baru

Sehari selepas genap usia empat dua, arah perjalanan karierku tiba-tiba berbelok. Kali ini, aku mampir di salah satu kementerian yang bergelut di bidang perumahan. Sebelumnya, aku berada dalam kondisi yang bisa dibilang "nyaman" di kantor lama—dua puluh tahun sudah kulalui di sana. Namun, tuntutan untuk naik grade ternyata bukan sekadar wacana. Di tengah berbagai peluang yang belum juga membuahkan hasil, datanglah satu momen yang menjadi titik temu antara penantian dan penawaran. “Bud, mau nggak ke kementerian baru?” tanya salah satu atasan. “Ehhmmm... boleh,” jawabku singkat. Dan dari situlah prosesi penugasan ke kantor baru dimulai. Tepat pada tanggal 21 Februari 2025, di aula utama Kementerian PUPR, kami berdiri di hadapan menteri pilihan Presiden Prabowo untuk menjalani prosesi pelantikan. Aku, Kun, dan Saifur—kami bertiga berada dalam satu tim penugasan. Namun, sebelum prosesi ini benar-benar terlaksana, kedatangan kami—aku dan Kun—masih diselimuti banyak tanya, “YAKIN?...