"Mas Agus", begitu aku memanggilnya, Sore itu aku sengaja menyempatkan diri menghubungi beliau untuk sekedar bertemu dan sejenak bercakap. Saat ini dia bekerja di sebuah perusahaan di kawasan Pulo Gadung Jakarta Timur. Adalah badminton yang menjadikan dia mempu bertahan menjadi karyawan tetap, ditengah banyak karyawan PT yang "dirumahkan". Menyebut nama beliau, pikiranku langsung melayang ke masa dimana aku masih berlatih badminton semasa kecil. Sesosok atlet badminton masa itu seperti Ardi B Wiranata, Hariyanto Arbi, Joko Supriyanto serta lokasi latihan GOR Gelarsena sampe bis Putra Jaya Utama dan besi tua menghiasi ingatan.
Gebyar olahraga tepok bulu waktu itu memang sangat menyebar dan mendalam. Hampir setiap malam ada pertandingan "bapak-bapak" di kampung. Lomba antar kampung dan lomba 17-an merupakan tontonan seru bagi warga.
Mas Agus adalah tetangga di kampung, dan masih ada garis saudara. Semasa kecil, kami terbiasa berlatih tanding badminton bersama di halaman rumah sampai akhirnya kami berdua ikut berlatih di sebuah klub di kota Klaten.
Sosok-sosok yang popular waktu itu, tidak bisa dipungkiri memberikan pengaruh bagi minat bermain badminton. Atlet nyentrik, Ardi B. Wiranata dan raja smash hariyanto arbi menjadi icon bagi anak-anak untuk bermimpi menjadi seorang atlet. Sosok Ardi B Wiranata terkenang karena penampilan nyentrik dengan potongan rambut panjang di belakang alias "gondrong ndeso". Sementara, Hariyanto Arbi menghiasi televisi di sela-sela pertandingan dengan tips-tips tips-tips teknik memperkuat pukulan smash dalam iklan milo. Tips memutar-mutar pergelangan tangan sembari menggenggam barbel menurutnya cukup ampuh untuk meningkatkan kekuatan smash bagi atlet badminton. Alhasil, kaleng bekas cat dipadukan dengan semen dan potongan sapu ijuk menjadi salah satu kreasi peralatan "ngegym" sesuai arahan sang raja smash kala itu :)
| GOR Gelarsena yang dibangun tahun 1986 (sumber: web.disbudporapar.klaten.go.id) |
Hegemoni bulu tangkis di kalangan warga negara Mireng-Trucuk-Klaten rupanya menggerakkan inisiatif bapak untuk mendaftarkan putra sulungnya sekolah badminton di kota. PB Kusuma adalah salah satu dari sedikit klub atau sekolah badminton terkenal di kota klaten. Berlokasi di Gedung Olah Raga (GOR) Gelar Sena yang merupakan pusat gedung olah raga di Klaten menjadi tempat latihan rutin 2x seminggu pada hari Rabu dan Jumat (seingatku). Seiring intensitas latihan di PB Kusuma, tampaknya raket-pun perlu di-upgrade agar relate dan kompetitif untuk latihan dan juga pertandingan. Hadirlah raket Pro Kennex seri Carbon Pro 727 dari Bapak dengan harga cukup mahal di kisaran harga. Raket ini muncul setelah raket ProKennex legendari seri Boron yang notabene raket tanpa T pertama kali. Kemunculan Carbon Pro 727 resmi menggantikan raket versi pemula yang Bapak belikan ketika baru belajar badminton dengan teman-teman kampung. Kala itu, Bapak membelikan 2 buah raket yaitu Yosport (YS) yang kala itu harganya berkisar Rp9.000,- dan satu lagi raket yang aku lupa mereknya dengan kisaran harga Rp5.000,-.
Rutinitas latihan badminton kami lakukan seusai sekolah pada hari rabu dan jumat. Aku ditemani dengan mas agus selalu menunggu kedatangan bis bermerek "besi tua" ataupun "putra jaya utama" yang akan mengantarkan kami ke GOR gelarsena. Kami selalu menanti di sudut desa yang bersebrangan langsung dengan jalan raya "Ngaran - Trucuk" atau Pojok Pager biasa kami menyebutnya.
Sesi latihan terasa melelahkan dan membosankan. Aku kira akan langsung mendapatkan pelatihan teknis badminton, nyatanya dalam bulan-bulan awal, latihan didominasi dengan lari, stretching, footwork, dan latihan memukul tanpa shuttle kock. Namun, tampaknya memang hal itu yang harus dimulai oleh seorang pemula, siapin dulu fisiknya, benerin dulu pukulannya, hafalin dulu langkahnya.
Masih ingat satu nama "Janu" yang pertama menjadi teman latihan yang aku rasa cukup aneh waktu itu karena dia merupakan pemain kidal. Entah dimana dia sekarang berada, sudah tidak pernah lagi bersua, Hanya sempat terdengar kabar ada nama Janu sebagai salah satu pelatih di Malaysia, mungkinkah itu dia orangnya?
Komentar
Posting Komentar